Sabtu, 19 Januari 2013

BAB II


BAB II
KAJIAN PUSTAKA


A.  Pembelajaran Matematika di Sekolah Menengah Pertama
1.    Hakikat Pembelajaran Matematika
Istilah matematika berasal dari Bahasa Yunani, “mathematica”, dengan akar kata mathema, yaitu “mathein” yang berarti belajar atau berpikir. Karena itu, “mathematica” berarti relating to learning, berarti ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan nalar.
Matematika adalah suatu cara manusia berpikir, karena kebenaran dan keabsahan dalam matematika disajikan sesuai dengan bagaimana pola pikir manusia. Hal ini terlihat dari kekhasan/kekhususan matematika itu sendiri. Matematika sebagai alat dan pelayan ilmu, karena matematika bukan hanya untuk matematika saja tetapi teori maupun pemakaian praktis dalam matematika banyak membantu dan melayani ilmu-ilmu lain.
Hal ini dikemukakan pula oleh Ruseffendi[1], bahwa:
Matematika sebagai alat bantu dan pelayanan ilmu yang tidak hanya untuk matematika itu sendiri melainkan juga untuk ilmu-ilmu lainnya, baik untuk kepentingan teoritis maupun kepentingan praktis sebagai aplikasi dari matematika.

Jadi hampir semua mata pelajaran di sekolah menengah pertama memerlukan perhitungan matematika, sehingga penguasaan masalah ini sangatlah penting. Matematika diajarkan di sekolah karena dilihat dari kegunaannya adalah untuk memecahkan persoalan sehari-hari dan persoalan ilmu lainnya. Alasan sama seperti ilmu lain, yaitu untuk dipelihara dan dikembangkan. Menurut Kurikulum 2006[2] menjelaskan bahwa:
Matematika adalah suatu pelajaran yang diberikan kepada semua siswa  mulai dari sekolah dasar (SD) untuk membekali para siswa dengan berpikir logis, analitis, kreatif, serta kemampuan kerjasama agar dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah dan tidak pasti dan kompetitif.

Menurut Rey[3]’Matematika adalah telaahan tentang pola adan hubungan, suatu jalan atau pola berpikir, suatu seni, suatu bahasa dan suatu alat’.
Ruang lingkup mata pelajaran matematika pada satuan pendidikan SMP/MTS sederajat meliputi aspek-aspek sebagai berikut: “1) Aljabar; 2) Geometri Bangun datar.”
Ciri-ciri pembelajaran matematika  menurut Suwangsih[4] yaitu:
a.    Pembelajaran matematika menggunakan pendekatan spiral. Pendekatan spiral dalam pembelajaran matematika merupakan pendekatan dimana pembelajaran konsep atau suatu topik matematika selalu mengkaitkan atau menghubungkan dengan topik sebelumnya.
b.    Pembelajaran matematika bertahap. Materi pelajaran matematika diajarkan secara bertahap yaitu dimulai dari konsep-konsep yang sederhana menuju konsep yang lebih rumit dan komplek.
c.    Pembelajaran matematika menggunakan metode induktif. Matematika merupakan ilmu deduktif, namun karena sesuai tahap perkembangan mental siswa maka pada pembelajaran matematika digunakan pendekatan induktif.
d.   Pembelajaran matematika menganut kebenaran konsistensi. Artinya tidak ada pertentangan antara kebenaran yang satu dengan kebenaran yang lainnya.
e.    Pembelajaran matematika hendaknya bermakna. Pembelajaran bermakna merupakan cara mengajarkan materi pelajaran yang mengutamakan pengertian daripada hapalan.

2.    Tujuan Pembelajaran Matematika di Sekolah Menengah Pertama
Menurut Suherman dkk[5], tujuan pembelajaran matematika mengacu pada fungsi matematika serta kepada Tujuan Pendidikan Nasional, bahwa tujuan umum diberikannya matematika pada jenjang pendidikan dasar meliputi dua hal, yaitu:
a)    Mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan di dalam kehidupan dan di dunia yang selalu berkembang melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur, efektif dan efisien;
b)   Mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan.

B.  Problem Based Learning (PBL)
1.    Konsep Dasar PBL
PBL didasarkan pada hasil penelitian Barrow dan Tamblyn. PBL awalnya dirancang oleh Heward Barrow dengan mengikuti ajaran John Dewey bahwa guru harus mengajar sesuai dengan insting alami untuk menyelidiki dan menciptakan sesuatu. Heward Barrow adalah seorang dosen fakultas kedokteran di MC Master University School of Medicine di Hanulton, Ontario, Kanada pada tahun 1969. Sejak itu PBL menyebar ke seluruh dunia. Tiga tahun kemudian dipakai di tiga tempat lainnya yaitu sekolah media Universitas Limburg pada Maastricht Netherland, universitas Newcastle di Australia dan Universitas New Mexico Amerika Serikat.
Duch[6] mengatakan bahwa:
Suatu model pembelajaran yang menghadapkan siswa tantangan “belajar untuk belajar”. Siswa aktif bekerja sama di dalam kelompok untuk mencari solusi permasalahan dunia nyata. Permasalahan ini sebagai acuan bagi siswa untuk merumuskan, mengenalisis dan memecahkannya.

Duch mengatakan bahwa model ini dimaksudkan untuk mengembangkan siswa berpikir kritis, analitis dan untuk menemukan serta menggunakan sumber daya yang sesuai untuk belajar.
PBL adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi peserta didik untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran.
Landasan teori PBL adalah kolaborativisme, yaitu suatu pandangan yang berpendapat bahwa siswa akan menyusun pengetahuan dengan cara membangun penalaran dari semua pengetahuan yang sudah dimilikinya dan dari semua yang diperoleh sebagai hasil kegiatan berinteraksi dengan sesama individu.
PBL memiliki gagasan bahwa pembelajaran dapat dicapai jika kegiatan pendidikan dipusatkan pada tugas-tugas atau permasalahan yang otentik (nyata), relevan, dan dipresentasikan dalam suatu konteks. Cara tersebut bertujuan agar siswa memiliki pengalaman sebagaiamana nantinya mereka hadapi di kehidupan profesionalnya. Pengalaman tersebut sangat penting karena pembelajaran yang efektif dimulai dari pengalaman konkrit. Pertanyaan, pengalaman, formulasi, serta penyususan konsep tentang pemasalahan yang mereka ciptakan sendiri merupakan dasar untuk pembelajaran.
PBL adalah proses pembelajaran yang titik awal pembelajaran berdasarkan masalah dalam kehidupan nyata lalu dari masalah ini siswa dirangsang untuk mempelajari masalah berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang telah mereka miliki sebelumnya (prior knowledge) sehingga dari prior knowledge ini akan terbentuk pengetahuan dan pengalaman baru. Diskusi dengan menggunakan kelompok kecil merupakan poin utama dalam penerapan PBL. PBL merupakan proses pembelajaran dimana masalah merupakan pemandu utama ke arah pembelajaran tersebut.
Jadi dari beberapa definisi mengenai PBL, dapat disimpulkan bahwa belajar PBL merupakan suatu penedekatan dimana siswa dihadapkan pada permasalahan dunia nyata dan kegiatan-kegiatan pembelajaran, oleh karena itu PBL menuntut siswa untuk berpikir kritis dan terampil dalam pemecahan masalah.
2.    Karakteristik PBL
Berdasarkan teori yang dikembangkan Barrow, Min Liu[7] menjelaskan karakteristik dari PBL, yaitu:
a.    Learning is student-centered. Proses pembelajaran dalam PBL lebih menitikberatkan kepada siswa sebagai orang belajar. Oleh karena itu, PBL didukung juga oleh teori konstruktivisme dimana siswa didorong untuk dapat mengembangkan pengetahuannya sendiri.
b.    Authentic problems form the organizing focus for learning. Masalah yang disajikan kepada siswa adalah masalah yang otentik sehingga siswa mampu dengan mudah memahami masalah tersebut serta dapat menerapkannya dalam kehidupan profesionalnya nanti.
c.    New information is acquired through self-directed learning. Dalam proses pemecahan masalah mungkin saja siswa belum mengetahui dan memahami semua pengetahuan prasyaratnya, sehingga siswa berusaha untuk mencari sendiri melalui sumbernya, baik dari buku atau informasi lainnya.
d.    Learning occurs in small groups. Agar terjadi interaksi ilmiah dan tukar pemikiran dalam usaha membangun pengetahuan secara kolaborative, maka PBL dilaksakan dalam kelompok kecil. Kelompok yang dibuat menuntut pembagian tugas yang jelas dan penetapan tujuan yang jelas.
e.    Teachers act as facilitators. Pada pelaksanaan PBM, guru hanya berperan sebagai fasilitator. Namun, walaupun begitu guru harus selalu memantau perkembangan aktivitas siswa dan mendorong siswa agar mencapai target yang hendak dicapai.

Menurut Pierce dan Jones[8], kejadian yang harus muncul dalam pengimplementasian PBL yaitu:
a.    Engagment, siswa berperan secara aktif sebagai pemecah masalah, siswa dihadapkan pada situasi yang mendorongnya agar mampu menemukan masalah dan memecahkannya.
b.    Inquiry, siswa bekerja sama dengan yang lainnya untuk mengumpulkan informasi melalui kegiatan penyelidikan.
c.    Solution Building, siswa bekerja sama melakukan diskusi untuk menemukan penyelesaian masalah yang disajikan.
d.    Debriefing and reflection, siswa melakukan sharing mengenai pendapat dan idenya dengan yang lain melalui kegiatan tanya jawab untuk mengevaluasi proses dan hasil pemecahan masalah.
e.    Presentation of finding, siswa menuliskan rencana, laporan kegiatan atau produk lain yang dihasilkannya selama pembelajaran kemudian mempresentasikan kepada yang lain.

3.    Tahap Pembelajaran dalam PBL
Adapun tahapan pelaksanaan model PBL di kelas menurut Ismail dan Sudibyo[9] adalah:
a.    Guru memperkenalkan siswa dengan suatu masalah
b.    Guru mengorganisasi siswa dalam kelompok kecil
c.    Menetapkan hal-hal yang harus dilakukan untuk menyelesaikan  masalah
d.   Siswa melakukan kegiatan penyelidikan guna mendapatkan konsep untuk menyelesaikan masalah kemudian membuat laporan
e.    Siswa merepresentasikannya
f.     Diakhiri dengan penyajian serta analisis evaluasi hasil dan proses.

Pembagian tahapan-tahapan belajar dalam PBL dapat digambarkan
dalam bagan berikut:

4.    Keunggulan PBL
Beberapa faktor kelebihan dari PBL, diantaranya:
a.    Teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.
b.    Dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahan baru bagi siswa.
c.    Dapat  meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.
d.   Dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.
e.    Dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan.
f.     Dapat memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran pada dasarnya merupakan cara berpikir dan sesutu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekedar belajar dari guru atau dari buku-buku paket.
g.    Dianggap  lebih menyenangkan dan disukai siswa.
h.    Dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk beerpikir kritis siswa dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru.
i.      Dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
j.      Dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.
5.    Kelemahan PBL
Beberapa kelemahan dari PBL, diantaranya:
a.    Manakala siswa tidak memiliki minat atau mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan mereka akan merasa malas untuk mencoba.
b.    Keberhasilan strategi pembelajaran melalui PBL membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.
c.    Tanpa pemahaman mereka berusaha untuk memecahkan yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.

6.    Teori Belajar yang Melandasi Pembelajaran Tentang PBL
Dua tokoh kontruktivistik yang banyak berbicara tentang PBL, diantaranya adalah:
John Dewey[10] dalam Democrasy and Education mengatakan bahwa sekolah merupakan labortaorium bagi siswa untuk penyelidikan dan pengatasian masalah kehidupan sehari-hari dalam dunia nyata. Pedagogi Dewey mendorong guru untuk melibatkan siswa diberbagai proyek berorientasi masalah dan membantu mereka menyelidiki berbagai masalah.
Teori belajar dari Jean Piaget[11] mengungkapkan bahwa proses berpikir sebagai aktivitas fungsi intelektual secara berangsur dari konkrit menuju abstrak. Piaget membagi tahap-tahap perkembangan intelektual individu menjadi empat tahap, yaitu tahap sensori motor, tahap pra operasi, tehap operasi konkrit dan tahap operasi formal.
Menurut Piaget[12], pengetahuan dikonstruksi dalam pikiran anak. Pembelajaran merupakan proses aktif artinya pengetahuan baru tidak terbentuk dengan diberikan kepada siswa dalam bentuk jadi, tetapi pengetahuan dibentuk sendiri oleh siswa dengan berinteraksi terhadap lingkungannya melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah proses pengintegrasian secara langsung stimulus baru ke dalam skemata yang telah terbentuk. Sedangkan akomodasi adalah proses pengintegrasian stimulus baru ke dalam skema yang telah terbentuk secara tidak langsung.
Perspektif kognitif-konstruktivis, yang menjadi landasan PBL banyak meminjam pendapat Piaget[13]. Perspektif ini mengatakan, seperti yang juga dikatakan oleh Piaget bahwa pelajar dengan umur berapa pun terlibat secara aktif dalam proses mendapatkan informasi dan mengonstruksikan pengetahuannya sendiri. Pengetahuan tidak statis, tetapi berevolusi dan berubah secara konstan selama pelajar mengonstruksikan pengalaman-pengalaman baru yang memaksa mereka untuk mendasarkan diri dan memodifikasi pengetahuan sebelumnya.
Menurut Piaget, pedagogi yang baik itu harus melibatkan penyodoran berbagai situasi dimana anak bisa bereksperimen, yang dalam artinya paling luas yaitu mengujicobakan berbagai hal untuk melihat apa yang terjadi, memanipulasi benda-benda; memanipulasi simbol-simbol; melontarkan pertanyaan dan mencari jawabannya sendiri; merekonsiliasikan apa yang ditemukannya suatu waktu dengan apa yang ditemukannya pada waktu yang lain; dan membandingkan temuannya dengan temuan anak-anak lain.
C.  Kemampuan Berpikir Kritis
1.    Konsep Dasar Berpikir Kritis
Secara etimologis berpikir dapat diartikan sebagai cara menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan atau memutuskan sesuatu. Berpikir adalah suatu aktivitas kognitif seseorang yang digunakan untuk menerima, menganalisis, dan mengevaluasi informasi yang diperoleh dengan menggunakan akal.
Berpikir kritis banyak didefinisikan oleh para ahli dengan sudut pandang yang berbeda, diantaranya:
Menurut Sukmadinata[14] menyatakan bahwa ’Berpikir kritis adalah suatu kecakapan nalar secara teratur, kecakapan sistematis dalam menilai, memecahkan masalah, menarik keputusan, memberikan keyakinan, menganalisis asumsi, dan pencarian ilmiah.’
Menurut Desmitan[15] Berpikir kritis adalah  pemahaman terhadap permasalahan secara mendalam.
Menurut Mayers[16]  mengatakan bahwa:
Pengembangan kemampuan berpikir kritis harus didukung oleh lingkungan kelas yang mendorong munculnya diskusi tanya jawab, penyelidikan dan pertimbangan. Lingkungan kelas yang demikian dapat dibuat melalui pengaturan waktu yang memungkinkan lebih banyak diskusi dan melalui pembuatan tugas-tugas yang efektif dan jelas.

Sedangkan menurut Piaget[17], setiap individu mengalami tingkat-tingkat perkembangan intelektual sebagai berikut:
a.    Sensori-motor (0 – 2 tahun)
b.    Pra-operasional (2 – 7 tahun)
c.    Operasional konkrit (7 – 11 tahun)
d.   Operasi formal (11 tahun – ke atas)

Secara singkat dapat dinyatakan bahwa berpikir kritis adalah kegiatan berpikir yang mendalam, komprehensif, argumentatif-logis, dan evaluatif. Berpikir kritis merupakan sebuah proses yang terarah dan jelas yang digunakan dalam kegiatan mental seperti memecahkan masalah, mengambil keputusan, membujuk, menganalisis asumsi, dan melakukan penelitian ilmiah.
2.    Tujuan berpikir kritis
Berpikir kritis tidak bertujuan untuk menyerang atau menyudutkan orang lain. Sasaran pikiran bukanlah pribadi individu, melainkan gagasan individu
a.    Berpikir kritis tidak berkaitan dengan menang atau kalah dalam adu argumen, melainkan berpikir kritis bertujuan untuk mendapatkan kebenaran.
b.    Berpikir kritis membantu individu dalam memecahkan masalah.
3.    Indikator Berpikir Kritis
Kemampuan berpikir kritis setiap orang berbeda-beda. Oleh karena itu, diperlukan suatu indikator sehingga kita dapat menilai tingkat berpikir kritis seseorang. Wade[18] mengidentifikasi delapan karakteristik berpikir kritis, yakni meliputi:
a.    Kegiatan merumuskan pertanyaan
b.    Membatasi permasalahan
c.     Menguji data-data
d.   Menganalisis berbagai pendapat
e.    Menghindari pertimbangan yang sangat emosional
f.     Menghindari penyederhanaan berlebihan
g.    Mempertimbangkan berbagai interpretasi
h.    Mentoleransi ambiguitas.
Karakteristik lain yang berhubungan dengan berpikir kritis, dijelaskan Beyer[19] yaitu:
a.    Watak (dispositions)
Seseorang yang mempunyai keterampilan berpikir kritis mempunyai sikap skeptis, sangat terbuka, menghargai sebuah kejujuran, respek terhadap berbagai data dan pendapat, respek terhadap kejelasan dan ketelitian, mencari pandangan-pandangan lain yang berbeda, dan akan berubah sikap ketika terdapat sebuah pendapat yang dianggapnya baik.
b.    Kriteria (criteria)
Dalam berpikir kritis harus mempunyai sebuah kriteria atau patokan. Untuk sampai ke arah sana maka harus menemukan sesuatu untuk diputuskan atau dipercayai. Meskipun sebuah argumen dapat disusun dari beberapa sumber pelajaran, namun akan mempunyai kriteria yang berbeda.
c.    Argumen (argument)
Argumen adalah pernyataan atau proposisi yang dilandasi oleh data-data. Keterampilan berpikir kritis akan meliputi kegiatan pengenalan, penilaian, dan menyusun argumen.
d.   Pertimbangan atau pemikiran (reasoning)
Pertimbangan atau pemikiran yaitu kemampuan untuk merangkum kesimpulan dari satu atau beberapa premis. Prosesnya akan meliputi kegiatan menguji hubungan antara beberapa pernyataan atau data.
e.    Sudut pandang (point of view)
Sudut pandang adalah cara memandang/menafsirkan dunia ini, yang akan menentukan konstruksi makna. Seseorang yang berpikir dengan kritis akan memandang sebuah fenomena dari berbagai sudut pandang yang berbeda.
f.     Prosedur penerapan kriteria (procedures for applying criteria)
Prosedur penerapan berpikir kritis sangat kompleks dan prosedural. Prosedur tersebut akan meliputi merumuskan permasalahan, menentukan keputusan yang akan diambil, dan mengidentifikasi perkiraan-perkiraan.
Selanjutnya Bayer[20] menentukan 12 indikator kemampuan berpikir kritis, yaitu:
(1)  Mengenal inti permasalahan;
(2)  Membandingkan persamaan dan perbedaan;
(3)  Menentukan informasi yang relevan;
(4)  Merumuskan pertanyaan yang tepat;
(5)  Membedakan antara bukti, opini, dan pendapat yang beralasan;
(6)  Mengoreksi ketepatan argument;
(7)  Mengetahui asumsi yang tidak ditetapkan;
(8)  Mengakui adanya kiasan atau peniruan;
(9)  Mengakui bias, faktor, emosional, propaganda, dan arti kata yang kurang tepat;
(10)       Mengakui perbedaan nilai orientasi dan pandangan;
(11)       Mengakui kecukupan data, dan
(12)       Meramalkan konsekuensi yang mungkin.

Selanjutnya, Ennis[21], mengidentifikasi 12 indikator berpikir kritis, yang dikelompokkannya dalam lima besar aktivitas sebagai berikut:
a)    Memberikan penjelasan sederhana, yang berisi: memfokuskan pertanyaan, menganalisis pertanyaan dan bertanya, serta menjawab pertanyaan tentang suatu penjelasan atau pernyataan;
b)    Membangun keterampilan dasar, terdiri atas mempertimbangkan apakah sumber dapat dipercaya atau tidak dan mengamati serta mempertimbangkan suatu laporan hasil observasi;
c)    Menyimpulkan, yang terdiri atas kegiatan mendeduksi atau mempertimbangkan hasil deduksi, meninduksi atau mempertimbangkan hasil induksi dan membuat serta menentukan nilai pertimbangan;
d)    Memberikan penjelasan lanjut, terdiri atas mengidentifikasi istilah, definisi pertimbangan, dimensi dan mengidentifikasi asumsi; dan
e)     Mengatur strategi dan teknik, yang terdiri atas menentukan tindakan dan berinteraksi dengan orang lain.



[1] Anne Riyanti..................................hal 13

[2] Departemen Pendidikan Nasional.............................................hal36
[3] Erna Suwangsih,. Model Pembelajaran Matematika. (Bandung: UPI Press. 2006).hal4
[4] Erna Suwangsih.......................................................hal.
[5] Suherman,dkk. Strategi Pembelajaran Matematika Kontenporer. (Bandung: JICA tim MKBPM Universitas Pendididkan Indonesia. 2001).hal.58
[6] Yatim Riyanto. Paradigma Baru Pembelajaran. (Jakarta:Kencana Prinada Medi Group.2010).hal.285
[7] Lidinillah, Dindin Abdul Muiz. Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning). (Makalah, UPI Kampus Tasikmalaya.2009).hal4.
[8] Laila Nurhasanah. Meningkatkan Kompetensi Strategi Siswa SMP Melalui PBL. (Skripsi FMIPA UPI Bandung. 2009).hal13.


[9] Laila Nurhasanah...............................................hal14
[10] Martinis Yamin. Paradigma Baru Pembelajaran. (Jakarta: Gaung Persada Press.2011).Hal 147
[11] Suherman,dkk..........................................................hal20
[12] Suherman,dkk..........................................................hal38

[13] Laila Nurhasanah........................................................hal16
[14] Heti Yulianti. Penerapan Model Savi Dalam Pembelajaran Matematika Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMP. (Skripsi FPMIPA UPI Bandung.2009).hal4
[15] Budi Kurnia. Pendekatan Masalah Matematika Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa. (Skripsi Program SI PGSD UPI Tasikmalaya.2010).hal31.
[16] Budi Kurnia....................................hal32.
[17] Suherman, dkk...............................hal38.
[18] Heti Yulianti.............................................hal21
[19] Heti Yulianti.........................................hal22
[20] Heti Yulianti. ............................................hal23
[21] Anne Riyanti............................................hal32

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar